hit counter script

Berita terbaru Sidang Tragedi Kanjuruhan, Komite Eksekutif PSSI Sebut Stadion Layak Digunakan

TEMPO.CO, Surabaya – Anggota Komite Eksekutif PSSI Ahmad Riyadh mengatakan tidak ada klub sepak bola di seluruh Indonesia yang mempunyai stadion sendiri. Umumnya stadion yang dipakai bertanding, baik Liga 1, 2 maupun 3, milik pemerintah daerah. Pernyataan Riyadh disampaikan saat ia menjadi saksi sidang kasus tragedi Kanjuruhan dengan terdakwa ketua pelaksana pertandingan Arema FC Abdul Haris dan safety officer Suko Sutrisno di Pangadilan Negeri Surabaya, Jumat sore, 20 Januari 2022.

Riyadh menjawab pertanyaan penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Malang soal siapa yang bertanggung jawab atas kelayakan Stadion Kanjuruhan menggelar pertandingan Arema FC as opposed to Persebaya Surabaya pada 1 Oktober 2022 lalu.

“Sehingga layak tidaknya stadion untuk menggelar kompetisi Liga 1, tentunya telah diferivikasi oleh PT Liga Indonesia Baru (LIB). Selain PT LIB, juga harus ada ferivikasi dari pemadam kebakaran terkait dengan keamanannya,” kata Riyadh yang juga Ketua Asosiasi Provinsi PSSI Jawa Timur itu.

Saat ditanya jaksa siapa yang bertanggung jawab bila ada pintu stadion yang tak bisa dibuka, Riyadh berujar bahwa sebelum pertandingan panpel harus menjamin bahwa semua pintu layak dipakai dan ada yang menjaga. Penjaga pintu, kata dia, tak boleh beranjak dari tempatnya sampai pertandingan berakhir dan penonton di dalam stadion bersih.

Namun Riyadh mengatakan tidak tahu apakah pintu Stadion Kanjuruhan berfungsi ketika tragedi  terjadi karena ia tidak berada di lokasi. Ketika memeriksa kondisinya keesokan harinya,  Riyadh mengaku baru tahu bahwa pintu-pintu tersebut hanya cukup untuk masuk dua orang bergiliran.

 “Walaupun penonton yang di luar bergerombol, namun masuknya tetap dua-dua karena petugas kan harus memeriksa tiketnya. Keluarnya juga seperti itu (dua-dua),” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat itu.

Ihwal kelayakan, Riyadh berdalih bahwa Stadion Kanjuruhan sudah sejak lama dipakai menggelar pertandingan-pertandingan besar. Bahkan turnamen Piala Presiden dan Piala AFC pun pernah dilaksanakan di stadion yang berada di Kecamatan Kepanjen tersebut. “Jadi kalau ditanya stadion ini layak atau tidak, saat itu layak. Tapi yang terakhir ini (Arema FC vs Persebaya) baru ada masalah,” katanya.

Penggunaan Gasoline Air Mata

 Ihwal larangan penggunaaan senjata pengurai massa dan gasoline air mata di dalam stadion, Riyadh mengatakan masalah itu sudah diatur dalam regulasi keselamatan pertandingan yang dikeluarkan PSSI. Bahkan disebutkan secara tegas dalam regulasi itu bahwa senjata pengurai massa dan gasoline air mata dilarang digunakan.

Riyadh menuturkan penanggung jawab keseluruhan pertandingan Arema FC vs Persebaya saat itu ialah ketua panpel Abdul Haris. Menurut Riyadh, Haris sudah berpengalaman menjadi ketua panpel karena yang bersangkutan telah melaksanakan pekerjaan itu sejak 2008. Suko Sutrisno jadi perpanjangan tangan Haris khusus mengurusi masalah keamanan pertandingan dan keselamatan penonton.

Sehingga, kata Riyadh, Suko Sutrisnolah yang punya wewenang menegur bila ada aparat keamanan membawa gasoline air mata ke dalam lapangan. Safety officer wajib mengingatkan agar senjata tersebut tidak digunakan.

Namun Riyadh mengakui bahwa kekuasaan panpel dan safety officer hanya sebatas di atas kertas. “Di lapangan biasanya kepolisian yang menentukan antisipasinya bila ada apa-apa. Tapi sesungguhnya antisipasi-antisipasi (oleh polisi) itu tetap di bawah panpel selaku penanggung jawab yang punya kewenangan penuh dalam pertandingan,” kata Riyadh.

Riyadh mengatakan dalam sebuah pertandingan sepak bola idealnya polisi tidak boleh masuk stadion. Tugas pengamanan cukup diserahkan kepada stewards. Tapi ia melihat Indonesia belum cukup splendid untuk menciptakan suasana tersebut. “Kalau di luar negeri nonton sepak bola itu kan seperti nonton konser musik, bisa mengajak istri dan anak. Kalau di sini belum bisa seperti itu,” katanya.

Dalam sidang yang dimulai setelah Salat Jumat ini penuntut umum menghadirkan 23 orang saksi, namun tiga di antaranya tidak dapat  datang. Saksi dari PT LIB sendiri ada empat orang yang dihadirkan, yakni Sujarno, Somad, Asep Saputra dan Muhammad Syafik.

Baca Juga: Sidang Tragedi Kanjuruhan, Jaksa Sebut Komandan Brimob Perintahkan Penembakan Gas Air Mata




Sumber Tempo

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts